Kisah Bijaksana

Kopi Kehidupan

Suatu hari, sebuah kelompok alumni universitas yang terdiri dari para sarjana sukses, berkumpul bersama untuk mengadakan acara reuni dengan mantan profesor mereka. Acara yang diadakan di kediaman sang profesor tersebut dihiasi hiruk pikuk dan canda tawa hingga tanpa mereka sadari pembicaraan berubah menjadi ajang curhat berisi keluh-kesah, stres dan kerasnya kehidupan.

Untuk menghangatkan suasana, sang profesor pergi ke dapur untuk meracik kopi. Sekembalinya dari dapur, ia membawa sebuah teko besar dan berbagai macam cangkir yang terbuat dari keramik, plastik, kaca, kristal dan beberapa cangkir murahan. Ia mempersilakan tamu-tamu beliau untuk menghidangkannya sendiri. (lebih…)

Pemuda Harus Seperti Rajawali

Sang Murid:

Guru, aku terjepit dengan berbagai masalah dan kesulitan hidup, Aku bingung, harus lari kemana?

Sang Guru:

Justru kehidupan semacam itulah yang harus kau tempuh. Kalau kau ingin menjadi Rajawali, maka kau harus membuat sangkar di puncak-puncak gunung, di pohon-pohon yang tinggi, sehingga setiap hari kau dihantam petir dan halilintar, dengan begitu kau berhak menjadi Rajawali.

Kalau kau takut pada tantangan, kau sembunyi saja di ketiak ibumu,
buatlah sangkar di semak-semak belukar, jadilah anak ayam atau burung pipit.

Pemuda harus seperti Rajawali, santapan paginya adalah petir dan halilintar!!!

–=O=–

Sumber: KlipingKehidupan.org

Bergeraklah

Suatu hari seorang murid yang melakukan sebuah perjalanan untuk bertemu seorang Guru Bijaksana, terhenti langkahnya setelah sebuah sungai besar membentang di hadapannya. Dengan ratapan putus asa, berjam-jam lamanya ia termenung mencari tahu bagaimana caranya agar ia bisa sampai di seberang sungai. Tepat sesaat sebelum ia menyerah dan memutuskan untuk menyudahi perjalanannya, ia melihat Sang Guru berdiri di sisi seberang sungai. Langsung saja ia berteriak pada Sang Guru “Wahai Guru! Bisakah Guru memberitahuku bagaimana caranya untuk sampai ke seberang sungai?”

Sang Guru diam sejenak kemudian menyahut balik “Anakku, kau masih berdiri di seberang sungai.”

Kedamaian Hati Adalah Kedamaian Sejati

Seorang Raja mengadakan sayembara dan akan memberi hadiah berlimpah kepada siapa saja yang bisa melukis tentang kedamaian. Ada banyak seniman dan pelukis yang berusaha keras untuk memenangkan lomba tersebut.

Ketika sayembara telah usai, sang Raja berkeliling melihat-lihat hasil karya mereka. Hanya ada dua buah lukisan yang paling disukainya. Tapi, sang Raja harus memilih satu diantara keduanya.

Lukisan pertama menggambarkan sebuah telaga yang tenang. Permukaan telaganya bagaikan cermin sempurna yang mematulkan kedamaian gunung- gunung yang menjulang tenang disekitarnya. Di atasnya terpampang langit biru dengan awan putih berarak-arak. Semua yang memandang lukisan ini akan berpendapat, inilah lukisan terbaik mengenai kedamaian.

Lukisan kedua menggambarkan pegunungan juga. Namun tampak kasar dan gundul. Di atasnya terlukis langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan badai, sedangkan tampak kilat menyambar-nyambar liar. Di sisi gunung ada air terjun deras yang berbuih-buih, sama sekali tidak menampakkan ketenangan dan kedamaian.

Tapi, sang Raja melihat sesuatu yang menarik, di balik air terjun itu tumbuh semak-semak kecil diatas sela-sela batu. Di dalam semak-semak itu seekor induk burung pipit meletakkan sarangnya. Jadi, ditengah-tengah riuh rendahnya air terjun, seekor induk pipit sedang mengerami telurnya dengan damai. Benar-benar damai.

Lukisan manakah yang memenangkan lomba?

Sang Raja memilih lukisan nomor dua.

“Wahai Raja, kenapa Raja memilih lukisan nomor dua?”

Sang Raja menjawab, “Kedamaian bukan berarti kau harus berada di tempat yang tanpa keributan, kesulitan atau pun pekerjaan yang keras dan sibuk. Kedamaian adalah hati yang tenang dan damai, meskipun kau berada di tengah-tengah keributan luar biasa.”

“Kedamaian hati adalah kedamaian sejati.”

Ayahanda Socrates

Socrates yang terkenal bijak di masanya suatu hari didatangi seorang pemuda yang ingin menjadi arif seperti Socrates.

“Saya ingin mengetahui segala sesuatu yang bapak ketahui!” seru pemuda tersebut.

“Kalau memang begitu keinginanmu”, kata Socrates, “ayo ikut bapak ke sungai.”

Dengan penuh rasa ingin tahu, pemuda itu mengikuti Socrates menuju sungai yang ada di ujung kota. Sementara mereka duduk di tepi sungai, Socrates berucap,”Coba lihat baik-baik sungai ini, apa yang kamu lihat?”

“Saya tidak melihat apapun”, kata pemuda itu.

“Lihatlah lebih dekat lagi”, kata Socrates. (lebih…)

Merenungkan Matahari Terbenam

contemplate-sun_blog.jpgKisah Bijaksana ini ditulis oleh Paulo Coelho

***

Tiga orang yang sedang berjalan dengan sebuah kafilah kecil melihat seorang manusia sedang merenungi matahari terbenam di puncak gunung gurun sahara.

“Mungkin itu adalah seorang pengembala yang telah kehilangan domba dan sedang mencari dombanya,” kata orang pertama.

“Bukan, aku rasa dia tidak mencari sesuatu, apalagi ketika matahari terbenam yang akan menyulitkanmu untuk melihat. Aku rasa dia sedang menunggu seorang teman.”

“Aku bertaruh dia adalah seorang manusia suci yang sedang mencari pencerahan,” komentar orang ketiga.

Mereka mendiskusikan apa yang sedang dilakukan manusia tersebut hingga diskusi menjadi hangat dan hampir saja membuat mereka bertengkar satu sama lain. Akhirnya, untuk mengetahui siapa yang benar, mereka memutuskan untuk memanjat gunungnya dan bertanya kepada orang tersebut. (lebih…)

Menjelaskan Tuhan

Sahabatku, bisakah kita menjelaskan Tuhan? Kalo kita melihat kembali Kitab Suci, terdapat banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang Tuhan, tetapi setelah diteliti lebih jauh semua penjelasan tersebut hanya sebatas pada sifat-sifatNya. Tuhan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata karena kata-kata hanya bisa menjelaskan suatu wujud yang berada pada ruang dan waktu sedangkan Tuhan melampaui ruang dan waktu. Ini sama seperti menjelaskan bagaimana rasanya jatuh cinta atau fall in love, tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan “rasa” ketika kita sedang berada dalam keadaan tersebut. Tetapi “rasa” tersebut bisa kita rasakan. Sama halnya dengan Tuhan, tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkanNya tetapi Ia bisa kita rasakan didalam hati kita. Hati kita adalah jembatan menujuNya.

Melalui hati, kita mendekat kepadaNya. Melalui hati kita menuju Cahaya Agung Sang Ilahi sebagaimana yang Ia sebutkan dengan penuh Cinta dan Kasih Sayang didalam Hadis Qudsi “Aku adalah Khazanah yang terpendam. Aku rindu ingin diketahui, untuk itu Aku menciptakan mahluk”. Mari kita menggapai KhazanahNya melalui hati yang suci. Hati yang di ridhoi olehNya. InsyaAllah.

Kisah-kisah dibawah ini menggambarkan keadaan diatas dimana kita ingin belajar mencintai Tuhan dengan hati yang ihklas dan tulus tetapi bingung darimana harus memulai. Ada juga yang ingin dekat kepadaNya tetapi tidak pernah sekalipun mengayunkan kakinya untuk memulai perjalanan menuju DiriNya. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah-kisah dibawah ini. Amin.

*

Awal Dari Sebuah Perjalanan

Seseorang bertanya kepada Yusuf bin al-Husain:

“Apakah yang harus aku lakukan agar aku bisa dekat dengan Tuhan?”, tanyanya.

“Ceritakan rahasiamu kepadaNya, dan jangan sampai ada seorang pun di dunia ini yang mengetahui rahasianya. Melalui hal itu, sebuah tali keimanan akan tumbuh kepada Sang Ilahi.

Orang itu melanjutkan pertanyaannya: “Hanya itukah yang akan membantuku dekat denganNya?”

(lebih…)