Hati

Mudah Menilai Orang Lain

Tetapi mudahkan untuk menilai diri sendiri?

Sebelum kita membahasnya lebih lanjut, mari sejenak kita simak cerita di bawah ini.

Suatu hari terdapat empat pemuda pertapa yang hidup bersama dalam sebuah rumah. Suatu saat mereka memutuskan untuk bersama-sama pergi bertapa selama sebulan menuju gunung yang terletak di ujung desa. Sebelum pertapaan dimulai mereka bersama-sama berjanji untuk tidak berbicara diantara mereka selama pertapaan berlangsung. Hal ini sangat penting untuk menjaga kekhusyukan selama bertapa. Akhirnya empat pemuda memulai pertapaannya masing-masing. Semua pemuda akhirnya masuk dalam kondisi kesunyian yang dipenuhi oleh keheningan. Tetapi setelah hari ke dua puluh sembilan salah seorang dari pertapa tersebut tiba-tiba teringat akan sesuatu dan berkata “Aku lupa apakah aku sudah mengunci pintu di rumah sebelum kita berangkat,”

Segera pertapa lain menyahut dengan suara lantang, “Bodoh kau! Kami sudah diam hampir satu bulan dan sekarang kau membatalkannya.”

Pertapa ketiga berkata, “Kau ini bagaimana? Kau batal juga!”

Pertapa keempat, “Puji Tuhan, akulah satu-satunya yang belum berbicara.”

LOL 😀

Sahabatku…

Seorang guru berkata “Sebelum engkau melihat kesalahan pada orang lain, sudahkah engkau melihat kesalahan pada dirimu sendiri?”

Ya Tuhanku, bimbing kami dalam membersihkan hati ini agar kami senantiasa bisa melihat kotoran-kotoran yang ada di dalam hati kami. amin

 

Dua Dunia Yang Berbeda

Saya mendapatkan gambar ini melalui email yang dikirim oleh teman saya. Teman saya juga mendapatkan gambar ini dari email yang dikirim oleh temannya. Saya tidak mengetahui siapa yang pertama kali membuat gambar ini lalu menyebarkannya melalui email. Siapapun dia, saya sangat-sangat berterima kasih atas kasih sayangnya kepada kita semua untuk mengingatkan kita atas salah satu hal yang paling penting dalam hidup kita yaitu BERSYUKUR. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada orang yang membuat gambar ini dan juga orang yang telah menyebarkan gambar ini hingga gambar ini tampil di hadapan kita. Dari hatiku yang paling dalam, aku berterima kasih kepadamu, semoga Kasih Sayang Tuhan selalu menaungi hati kalian semua. Semoga Cahaya Cinta Sang Kebenaran membimbing kalian semua dalam menuju CintaNya.amin

Salam Cinta dariku, Dimas

Tuhan…Buka mata hati kami

(lebih…)

Mengapa orang marah berteriak?

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya; “Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?”

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab; “Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak.” “Tapi…” sang guru balik bertanya, “lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?”

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar Menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.

Sang guru lalu berkata; “Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan,jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak.

Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”

Sang guru masih melanjutkan; “Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta?

Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?” Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.

“Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”

Sang guru masih melanjutkan; “Ketika engkau sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak.

Lebih lagi hendaknya engkau tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kalian.

Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang Bijaksana. Karena waktu akan membantumu.”

Segarnya Telaga Hati

Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya. Pak tua bijak hanya mendengarkan dengan seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya “, ujar pak tua.

“Pahit, pahit sekali,” jawab pemuda itu sambil meludah ke samping.

Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. (lebih…)