Kehidupan

Pejuang Dari Gunung Hejo

Pejuang Gunung Hejo

PEJUANG DARI GUNUNG HEJO

Suatu hari di Desa Gunung Hejo, Purwakarta. Desau angin menyapa rimbunan pohon karet. Suaranya gemerisik, ditingkahi bunyi riang beberapa bocah yang tengah bermain petak umpet. Tak jauh dari bocah-bocah itu, di sebuah rumah sederhana, Djudju Djunaedi (65) tengah sibuk memasukan beberapa majalah dan buku bekas ke tas kain sandang yang berwarna hitam lusuh.

Usai membenahi barang-barang tersebut, ia lantas meraih topi bisbol-nya dan mengenakan sepasang sepatu usang berwarna hitam. Setelah pamit kepada sang istri, Heni Saeni, lelaki itu bergegas keluar dan dengan langkah pasti memulai aktivitas mulianya: mengajak orang-orang kampung untuk membaca.

Begitulah kiprah Bah Udju (panggilan akrab orang Gunung Hejo kepada Djudju Djunaedi) dalam mengisi hari-harinya. Laiknya petugas perpustakaan keliling profesional, Abah Udju tanpa mengenal rasa lelah terus mengajak orang-orang kampung di Gunung Hejo dan sekitarnya untuk mencintai buku dan gandrung membaca. Apa yang menyebabkan ia bersikeras melaksanakan aktivitasnya yang pernah dicibir orang sebagai “perbuatan aneh dan gila” itu?
(lebih…)

Tukang Becak Ini Menyumbang Rp 570,000,000 Untuk Pendidikan Anak-Anak Miskin

Tukang Becak Dermawan

Bapak tua ini berprofesi sebagai tukang becak selama 20 tahun dan telah menyumbangkan 350,000 Renminbi (mata uang China) atau setara dengan Rp 570,000,000 untuk membiayai pendidikan 300 orang siswa yang hidup dalam kemiskinan.

Di suatu musim dingin, ia memberikan sumbangan terakhirnya berupa 500 renminbi (Rp 800,000) kepada guru mereka, “Ini sumbanganku yang terakhir, aku tidak sanggup lagi untuk bekerja.” Ia meninggal pada umur 9e tahun. Nama beliau adalah Bai Fang Li.

Anda tidak perlu menjadi orang kaya untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Betapa mulianya ia.
Rest In Peace Bapak Bai Fang Li

—o0o—

Sumber: KlipingKehidupan.wordpress.com

Dr. Ramnik Doshi

“Aku belum pernah sakit sejak 50 tahun terakhir ini. Tidak pernah demam, tidak pernah flu, diare, radang tenggorokan, tidak pernah sakit apapun. “Apa rahasianya? “Bersyukur dalam hidup.”

Dr. Ramnik Doshi

Pak berapa banyak operasi mata yang telah bapak lakukan?” seseorang bertanya padanya. “Kemarin siang bapak makan apa?” tanyanya kembali. Semuanya tertawa. Tentu saja kau tak akan bisa mengingat apa yang kau makan minggu lalu, karena itu tidaklah penting. Sama halnya bagi Dr. Doshi, jasa dan percapaiannya tidak perlu diperbincangkan.

Itulah jawaban dari seorang dokter tua berumur 89 tahun yang menjalankan sebuah rumah sakit mata “ajaib” yang telah berjalan selama lebih kurang 30 tahun, yang dapat membuatmu tercengang. Melihat pria sederhana ini dengan tubuhnya yang kecil, mengenakan kaos oblong, kita tidak akan mengira bahwa ia bertanggung jawab memberikan pengobatan mata kepada ribuan masyarakat miskin di pedesaan. Bertempat tinggal di sebuah desa terpencil di Gujarat, Dr. Ramnik Doshi telah bekerja keras menyediakan pengobatan mata secara gratis dan terjangkau bagi mereka yang tidak mampu dan membawa Dr. Doshi kepada pengenalan akan jati dirinya.

Terinspirasi oleh Ravishankar; seorang reformis pengikut Mahatma Gandhi, Dr. Doshi dan ketiga sahabat dokternya, melakukan ekperimen pertama mereka: sebuah mobil klinik untuk pengobatan mata di desa Petlad, dibantu oleh beberapa relawan. “Kendalanya adalah kami tidak memiliki cukup uang untuk fasilitas dan kebutuhan lainnya. Kami mencoba meminjam dari Bank, ‘Tolong pinjamkan kami 6000 rupees. Kami akan mengembalikannya walaupun kami tidak tahu bagaimana cara menghasilkan uang, tapi kami tetap akan melunasinya dalam enam bulan.’ Semua orang mengira kami gila hingga kami bertemu seorang penyandang dana yang juga merupakan seorang pengagum Ravishankar Maharaj,” ucap Dr. Doshi menceritakan awal mula perjalanan mereka. (lebih…)

Tak Lagi Berenang Menuju Sekolah

Kompas, 6 September 2008
Penulis: Elok Dyah Messwati
Sumber Artikel: The World Bank

Kompas/Elok Dyah Messwati / Kompas Images Anak-anak di Dusun Laihiding, Desa Kiritana, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur, kini tak perlu berenang lagi untuk mencapai sekolahnya di SD Bidi Praing Desa Kiritana. Kini mereka mendayung sampan yang merupakan bantuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Generasi.

Anak-anak di Dusun Laihiding, Desa Kiritana, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur, kini tak perlu berenang lagi untuk mencapai sekolahnya di SD Bidi Praing Desa Kiritana. Kini mereka mendayung sampan yang merupakan bantuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Generasi.

Hari masih pagi. Matahari mulai menyinari punggung Gunung Waturumbing yang gundul. Air Sungai Kambaniru memantulkan bayangan punggung gunung itu. Di seberang sungai beberapa siswa SD dari Dusun Laihiding keluar dari jalan setapak menuju tepi sungai.

Dari sana mereka kemudian menaiki sampan, menyeberangi sungai. Seorang anak yang duduk di belakang mengayuh dayung menyeberangi sungai selebar kira-kira 10 meter.

Setelah sampan tiba beberapa siswa turun. Seorang di antaranya tetap di atas sampan, ia mengayuh dayung kembali ke seberang sungai menjemput teman-temannya yang lain. Mereka naik perahu secara bergantian.

Begitu terus beberapa kali. Mereka bergantian menaiki sampan menuju sekolah mereka di Sekolah Dasar Negeri Bidi Praing, Desa Kiritana, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. (lebih…)

Sahabat Sejati

Seseorang berkata kepada Junaid, “Sahabat sejati sangatlah jarang saat ini. Di mana aku dapat menemukan seorang sahabat sejati?”

Junaid menjawab, “Jika kau menginginkan seorang sahabat yang memelihara dirimu dan menanggung bebanmu, maka yang demikian sangatlah jarang. Namun, jika kau menginginkan seorang sahabat sejati yang bersedia kau tanggung beban dan penderitaannya, maka begitu banyak yang dapat aku perkenalkan kepadamu.”

-=-=-=-=-=-=-=-

Abul Qosim al-Junaid bin Muhammad al-Khazzaz an-Nihawandi adalah seorang sufi terkemuka, guru al-Hallaj. Ia adalah putra seorang pedagang kaya raya, keponakan sufi terkenal as-Shaqati dan teman karib sufi masyur Muhasibhi. Junaid meninggal pada tahun 910 di Baghdad.

:: Kisah diambil dari buku Hati Diri & Jiwa. Psikologi Sufi untuk Transformasi. Robert Frager Ph.D (Sheikh Ragib al-Jerahi)

Doa Untuk Puteraku

Tuhanku …
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan
Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan
Tetap jujur dan rendah hati dalam kemenangan
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja
Seorang putera yang sadar bahwa mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan (lebih…)