Kopi Kehidupan

Suatu hari, sebuah kelompok alumni universitas yang terdiri dari para sarjana sukses, berkumpul bersama untuk mengadakan acara reuni dengan mantan profesor mereka. Acara yang diadakan di kediaman sang profesor tersebut dihiasi hiruk pikuk dan canda tawa hingga tanpa mereka sadari pembicaraan berubah menjadi ajang curhat berisi keluh-kesah, stres dan kerasnya kehidupan.

Untuk menghangatkan suasana, sang profesor pergi ke dapur untuk meracik kopi. Sekembalinya dari dapur, ia membawa sebuah teko besar dan berbagai macam cangkir yang terbuat dari keramik, plastik, kaca, kristal dan beberapa cangkir murahan. Ia mempersilakan tamu-tamu beliau untuk menghidangkannya sendiri. (lebih…)

Iklan

Pemuda Harus Seperti Rajawali

Sang Murid:

Guru, aku terjepit dengan berbagai masalah dan kesulitan hidup, Aku bingung, harus lari kemana?

Sang Guru:

Justru kehidupan semacam itulah yang harus kau tempuh. Kalau kau ingin menjadi Rajawali, maka kau harus membuat sangkar di puncak-puncak gunung, di pohon-pohon yang tinggi, sehingga setiap hari kau dihantam petir dan halilintar, dengan begitu kau berhak menjadi Rajawali.

Kalau kau takut pada tantangan, kau sembunyi saja di ketiak ibumu,
buatlah sangkar di semak-semak belukar, jadilah anak ayam atau burung pipit.

Pemuda harus seperti Rajawali, santapan paginya adalah petir dan halilintar!!!

–=O=–

Sumber: KlipingKehidupan.org

Dr. Ramnik Doshi

“Aku belum pernah sakit sejak 50 tahun terakhir ini. Tidak pernah demam, tidak pernah flu, diare, radang tenggorokan, tidak pernah sakit apapun. “Apa rahasianya? “Bersyukur dalam hidup.”

Dr. Ramnik Doshi

Pak berapa banyak operasi mata yang telah bapak lakukan?” seseorang bertanya padanya. “Kemarin siang bapak makan apa?” tanyanya kembali. Semuanya tertawa. Tentu saja kau tak akan bisa mengingat apa yang kau makan minggu lalu, karena itu tidaklah penting. Sama halnya bagi Dr. Doshi, jasa dan percapaiannya tidak perlu diperbincangkan.

Itulah jawaban dari seorang dokter tua berumur 89 tahun yang menjalankan sebuah rumah sakit mata “ajaib” yang telah berjalan selama lebih kurang 30 tahun, yang dapat membuatmu tercengang. Melihat pria sederhana ini dengan tubuhnya yang kecil, mengenakan kaos oblong, kita tidak akan mengira bahwa ia bertanggung jawab memberikan pengobatan mata kepada ribuan masyarakat miskin di pedesaan. Bertempat tinggal di sebuah desa terpencil di Gujarat, Dr. Ramnik Doshi telah bekerja keras menyediakan pengobatan mata secara gratis dan terjangkau bagi mereka yang tidak mampu dan membawa Dr. Doshi kepada pengenalan akan jati dirinya.

Terinspirasi oleh Ravishankar; seorang reformis pengikut Mahatma Gandhi, Dr. Doshi dan ketiga sahabat dokternya, melakukan ekperimen pertama mereka: sebuah mobil klinik untuk pengobatan mata di desa Petlad, dibantu oleh beberapa relawan. “Kendalanya adalah kami tidak memiliki cukup uang untuk fasilitas dan kebutuhan lainnya. Kami mencoba meminjam dari Bank, ‘Tolong pinjamkan kami 6000 rupees. Kami akan mengembalikannya walaupun kami tidak tahu bagaimana cara menghasilkan uang, tapi kami tetap akan melunasinya dalam enam bulan.’ Semua orang mengira kami gila hingga kami bertemu seorang penyandang dana yang juga merupakan seorang pengagum Ravishankar Maharaj,” ucap Dr. Doshi menceritakan awal mula perjalanan mereka. (lebih…)

Tak Lagi Berenang Menuju Sekolah

Kompas, 6 September 2008
Penulis: Elok Dyah Messwati
Sumber Artikel: The World Bank

Kompas/Elok Dyah Messwati / Kompas Images Anak-anak di Dusun Laihiding, Desa Kiritana, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur, kini tak perlu berenang lagi untuk mencapai sekolahnya di SD Bidi Praing Desa Kiritana. Kini mereka mendayung sampan yang merupakan bantuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Generasi.

Anak-anak di Dusun Laihiding, Desa Kiritana, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur, kini tak perlu berenang lagi untuk mencapai sekolahnya di SD Bidi Praing Desa Kiritana. Kini mereka mendayung sampan yang merupakan bantuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Generasi.

Hari masih pagi. Matahari mulai menyinari punggung Gunung Waturumbing yang gundul. Air Sungai Kambaniru memantulkan bayangan punggung gunung itu. Di seberang sungai beberapa siswa SD dari Dusun Laihiding keluar dari jalan setapak menuju tepi sungai.

Dari sana mereka kemudian menaiki sampan, menyeberangi sungai. Seorang anak yang duduk di belakang mengayuh dayung menyeberangi sungai selebar kira-kira 10 meter.

Setelah sampan tiba beberapa siswa turun. Seorang di antaranya tetap di atas sampan, ia mengayuh dayung kembali ke seberang sungai menjemput teman-temannya yang lain. Mereka naik perahu secara bergantian.

Begitu terus beberapa kali. Mereka bergantian menaiki sampan menuju sekolah mereka di Sekolah Dasar Negeri Bidi Praing, Desa Kiritana, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. (lebih…)

Barisan Kemanusiaan Imam Prasodjo

Assalamualaikum para sahabat 🙂 Terima kasih atas silahturahminya. Mulai saat ini dan seterusnya, blog ini akan mencoba menampilkan profil-profil mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan. Semoga membawa manfaat bagi kita semua. Wassalamualaikum.

=======================================================

Barisan Kemanusiaan Imam Prasodjo

Sumber artikel: www.alifmagz.com

Bentuk kebahagiaan sosiolog yang satu ini mungkin berbeda dari kebanyakan orang. Hal itu yang mendorongnya untuk terjun langsung di berbagai kegiatan kemanusiaan. Tak hanya sekedar menolong orang, namun merancang kegiatan dengan sistem yang baik sehingga dapat berkesinambungan.

Rumah DR. Imam Budidarmawan Prasodjo yang merupakan rumah almarhum mertuanya, Prof. DR. Miriam Budiarjo di jalan Proklamasi memang besar. Namun terlihat sesak dengan banyaknya tumpukkan kardus. Penghuninya tak hanya keluarga sosiolog senior ini saja, tampak juga beberapa relawan keluar masuk rumah tersebut dengan bebasnya. Entah bagaimana si empunya rumah mempertahankan privacy-nya, tapi sepertinya tidak ada yang merasa dirugikan dengan keadaan tersebut.

Kegiatan sosial sosiolog berkacamata di berbagai LSM dan yayasan lebih besar porsinya dibanding kegiatannya dalam menjalankan profesi menjadi dosen sosiologi untuk mahasiswa S1 dan S2 di FISIP UI. Kiprahnya di Yayasan Nurani Dunia telah menorehkan catatan panjang hasil yang dapat dinikmati oleh masyarakat banyak. Seperti dibangun dan direnovasinya sekitar 25 sekolah di daerah miskin atau rawan konflik, membuka beberapa perpustakaan, antara lain di wilayah Kampung Melayu, Kapuk, Kampung Bonang, hingga ke Bantul-Yogyakarta, dan Banjarnegara-Jawa Tengah. Program pembangunan rumah seperti di Aceh dan Yogyakarta, serta bekerjasama dengan WHO mengelola program pengelolaan air bersih di Madura dan banyak lagi.
(lebih…)

Sahabat Sejati

Seseorang berkata kepada Junaid, “Sahabat sejati sangatlah jarang saat ini. Di mana aku dapat menemukan seorang sahabat sejati?”

Junaid menjawab, “Jika kau menginginkan seorang sahabat yang memelihara dirimu dan menanggung bebanmu, maka yang demikian sangatlah jarang. Namun, jika kau menginginkan seorang sahabat sejati yang bersedia kau tanggung beban dan penderitaannya, maka begitu banyak yang dapat aku perkenalkan kepadamu.”

-=-=-=-=-=-=-=-

Abul Qosim al-Junaid bin Muhammad al-Khazzaz an-Nihawandi adalah seorang sufi terkemuka, guru al-Hallaj. Ia adalah putra seorang pedagang kaya raya, keponakan sufi terkenal as-Shaqati dan teman karib sufi masyur Muhasibhi. Junaid meninggal pada tahun 910 di Baghdad.

:: Kisah diambil dari buku Hati Diri & Jiwa. Psikologi Sufi untuk Transformasi. Robert Frager Ph.D (Sheikh Ragib al-Jerahi)