Orang-orang yang mengendalikan tali kekang nafsunya dari yang diharamkan berarti keberaniannya telah melampaui tokoh-tokoh perkasa seperti Rustam dan Samson.

Budak hawa nafsu adalah musuh yang paling mengerikan bagimu.

Jiwa raga kita bagaikan kota, yang mengandung kebaikan dan kejahatan. Kau adalah rajanya dan Akal adalah menterimu yang bijaksana.

Di kota itu, orang-orang yang keras kepala memperdagangkan ketamakan dan kebakhilan mereka. Tawakkal dan sederhana adalah warga yang harum dan bijak. Nafsu dan menyia-nyiakan waktu adalah pencuri dan pencopet.

Bila raja mengasihi orang jahat, bagaimana orang bijaksana bisa merasa tenteram?

Nafsu jahat, iri hati, dan kebencian bersatu padu dalam dirimu seperti darah dalam pembuluhnya. Jika musuh-musuhmu ini memperoleh kekuatan, mereka akan melawan perintah dan nasehatmu. Tak akan mereka melawan bila melihat betapa kerasnya Akal.

Para perampok dan bajingan tak akan berkeliaran jika patroli polisi memadai.

Penguasa yang tidak menghukum orang jahat berarti kalah dari musuh negara itu.

Tak banyak yang akan kubicarakan tentang ini; sepatah kata sudah cukup bagi orang yang suka berbuat dari apa yang sudah dibacanya.

– Sa’di (1184 – 1292)

*********

Dikutip dari:

Sastra Sufi, Sebuah Antologi. Karya Abdul Hadi W.M.

Iklan