Cinta

•28 Juni, 2009 • 5 Komentar

cinta sang surya

Bahkan hingga detik ini,
tak pernah Sang Matahari berkata pada bumi

“kau berhutang budi padaku”

Saksikanlah apa yang terjadi dengan cinta yang demikian:
Seluruh penjuru langit terang karenanya.

- Hafiz (1315 – 1390)

*********

:: Terima kasih kepada kakanda Herry yang membantu menyempurnakan terjemahan puisi di atas.

:: Foto di atas diambil dari NASA International Space Station. Ukuran Penuh & 1024

Tentang Pendidikan

•28 Juni, 2009 • 1 Komentar

Orang-orang yang mengendalikan tali kekang nafsunya dari yang diharamkan berarti keberaniannya telah melampaui tokoh-tokoh perkasa seperti Rustam dan Samson.

Budak hawa nafsu adalah musuh yang paling mengerikan bagimu.

Jiwa raga kita bagaikan kota, yang mengandung kebaikan dan kejahatan. Kau adalah rajanya dan Akal adalah menterimu yang bijaksana.

Di kota itu, orang-orang yang keras kepala memperdagangkan ketamakan dan kebakhilan mereka. Tawakkal dan sederhana adalah warga yang harum dan bijak. Nafsu dan menyia-nyiakan waktu adalah pencuri dan pencopet.

Bila raja mengasihi orang jahat, bagaimana orang bijaksana bisa merasa tenteram?

Nafsu jahat, iri hati, dan kebencian bersatu padu dalam dirimu seperti darah dalam pembuluhnya. Jika musuh-musuhmu ini memperoleh kekuatan, mereka akan melawan perintah dan nasehatmu. Tak akan mereka melawan bila melihat betapa kerasnya Akal.

Para perampok dan bajingan tak akan berkeliaran jika patroli polisi memadai.

Penguasa yang tidak menghukum orang jahat berarti kalah dari musuh negara itu.

Tak banyak yang akan kubicarakan tentang ini; sepatah kata sudah cukup bagi orang yang suka berbuat dari apa yang sudah dibacanya.

- Sa’di (1184 – 1292)

*********

Dikutip dari:

Sastra Sufi, Sebuah Antologi. Karya Abdul Hadi W.M.

Pohon Kehidupan

•28 April, 2009 • 10 Komentar

Pohon yang tak perlu berjuang
untuk mendapatkan air dan cahaya mentari,
tapi tegak berdiri di alam terbuka
dan selalu tersirami oleh hujan,
tak pernah menjadi raja hutan
namun tumbuh dan mati dalam kelapukan.
Kayu yang kokoh tidaklah tumbuh dengan mudah,
semakin kencang anginnya, semakin kuat pohonnya.

*********

:: Foto Towering Tree Karya ekillian

Kepakan Sayap-Sayap Burung

•26 April, 2009 • 5 Komentar

“Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman.” (QS 16:79)

Terbang Mengelilingi Jagat Raya [Episode Three]

•26 April, 2009 • 8 Komentar

Ya Tuhan, jadikan perjalanan ini sebagai zikir kami kepada-Mu. amin

Mari Sahabatku, kita terbang mengelilingi cakrawala semesta-Nya.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (QS 1:1)

jagat-raya1

Lanjutkan membaca ‘Terbang Mengelilingi Jagat Raya [Episode Three]‘

Bergeraklah

•26 April, 2009 • 9 Komentar

Suatu hari seorang murid yang melakukan sebuah perjalanan untuk bertemu seorang Guru Bijaksana, terhenti langkahnya setelah sebuah sungai besar membentang di hadapannya. Dengan ratapan putus asa, berjam-jam lamanya ia termenung mencari tahu bagaimana caranya agar ia bisa sampai di seberang sungai. Tepat sesaat sebelum ia menyerah dan memutuskan untuk menyudahi perjalanannya, ia melihat Sang Guru berdiri di sisi seberang sungai. Langsung saja ia berteriak pada Sang Guru “Wahai Guru! Bisakah Guru memberitahuku bagaimana caranya untuk sampai ke seberang sungai?”

Sang Guru diam sejenak kemudian menyahut balik “Anakku, kau masih berdiri di seberang sungai.”

Belajar Dari Bunga

•8 Maret, 2009 • 7 Komentar

bunga

“…yang selalu menghadapkan dirinya ke langit

dan menyebarkan wewangian ke alam di sekitarnya.”

*********

:: Foto Bunga karya Code Poet

Nabi Pembawa Kasih Tuhan

•8 Maret, 2009 • 5 Komentar

Lelaki berwibawa itu membariskan anak-anak pamannya, Abbas, Abdullah, Ubaidillah, dan Kutsair. Ia berkata kepada bocah-bocah itu, “Ayo, siapa yang lebih dulu mencapaiku, aku beri hadiah.”

Bocah-bocah itu dengan gembira berlarian, berlomba mendapatkan laki-laki yang mereka cintai itu. Ada yang kemudian jatuh di dadanya, ada yang di punggungnya. Lelaki yang tidak lain adalah pemimpin agung Nabi Muhammad SAW itu pun memeluk dan menciumi mereka.

Ketika waktu salat tiba, Rasulullah SAW seperti biasa datang untuk mengimami jamaah. Namun, kali ini, beliau datang dan salat dengan memanggul cucunya, Umamah binti Abil ‘Ash, di pundaknya. Pada saat rukuk, Umamah diletakkan dan saat bangkit dari rukuk cucunya itu diangkat lagi. Lanjutkan membaca ‘Nabi Pembawa Kasih Tuhan’

Untuk Ibunda Di Seluruh Dunia

•8 Maret, 2009 • 10 Komentar

Pada suatu hari, ketika Hasan al-Bashri thawaf di Ka’bah, Makkah, beliau bertemu dengan seorang pemuda yang memanggul keranjang di punggungnya. Beliau bertanya padanya apa isi keranjangnya. “Aku menggendong ibuku di dalamnya,” jawab pemuda itu. “Kami orang miskin. Selama bertahun-tahun, ibuku ingin beribadah haji ke Ka’bah, tetapi kami tak dapat membayar ongkos perjalanannya. Aku tahu persis keinginan ibuku itu amat kuat. Ia sudah terlalu tua untuk berjalan, tetapi ia selalu membicarakan Ka’bah, dan kapan saja ia memikirkannya, air matanya bergelinang. Aku tak sampai hati melihatnya seperti itu, maka aku membawanya di dalam keranjang ini sepanjang perjalanan dari Suriah ke Baitullah. Lanjutkan membaca ‘Untuk Ibunda Di Seluruh Dunia’

Seorang Penjahat Dan Seorang Sufi Qalandar

•8 Maret, 2009 • 7 Komentar

Sang Syeikh bercerita…

“Pada masa lalu, seorang faqir pengelana tiba di sebuah oasis di sebuah gurun di barat. Dia seorang Qalandar (Sufi pengembara yang penyendiri) yang berkelana di gurun-gurun Afrika dan Arab selama bertahun-tahun. Dia mencari-cari tempat penyendirian agar bisa mengingat Tuhannya dan merenungi misteri-misteri-Nya. Amal, iman, dan kepasrahannya kepada Tuhan membuatnya dianugerahi kedamaian jiwa. Ketulusan dan ibadahnya di jalan Cinta sangatlah mendalam, sehingga hal-hal gaib tersingkap padanya, dan ia menjadi seorang Wali, Sahabat Allah.

Nah, faqir itu tiba di oasis pada malam hari. Ia segera merebahkan tubuhnya di bawah pohon kurma untuk beristirahat sejenak sebelum menunaikan shalat tahajud. Tapi, tanpa disadari, ada lelaki lain yang juga sedang beristirahat di dekat pohon itu.

“Tapi lelaki itu adalah penjahat tersohor, gembong dari sekelompok penjahat yang dahulu sangat ditakuti orang. Mereka dulu suka merampok kafilah-kafilah pedagang kaya yang bepergian melalui kota-kota di pedalaman. Tapi kekejaman para penjahat itu akhirnya sampai ke telinga sultan, dan karenanya ia memerintah prajuritnya untuk memburu dan membunuh gerombolan perampok itu. Banyak anggota perampok yang tertangkap dan dipancung kepalanya. Yang lainnya meninggalkan gembong penjahat itu. Sebagian lagi mengkhianatinya karena takut dihukum mati seperti kawan-kawannya yang lain.

“Akhirnya, pentolan penjahat itu sendirian. Hartanya ludes semua. Uangnya yang terakhir sudah habis dalam pelarian. Kini ia menjadi buronan nomor wahid. Kepalanya dihargai sangat mahal. Bahkan, mantan kawan-kawannya, kini tak mau lagi menolongnya. Mereka juga takut hasil jarahannya, kini tak mau lagi menolongnya. Mereka juga takut jika kemarahan Sultan menimpa diri mereka. Karena itulah penjahat ini melarikan diri berhari-hari melintasi gurun dan sampai di oasis tersebut dalam keadaan letih dan lapar. Ia duduk di bawah pohon dan merutuki nasibnya yang malang.

“Nah, sekarang aku bertanya kepada kalian, dari dua lelaki itu, mana yang lebih agung dan mana yang lebih rendah? Siapa yang diberkahi Allah dan siapa yang dilaknat-Nya? Lanjutkan membaca ‘Seorang Penjahat Dan Seorang Sufi Qalandar’