Pak Tua Ini Memahat Gunung Selama 22 Tahun

•30 Januari, 2014 • Tinggalkan sebuah Komentar

usaha sosial

Pak Tua ini (Dashrath Manjhi) memahat sebuah gunung selama 22 tahun, siang dan malam untuk memastikan tidak ada lagi yang meninggal seperti istrinya akibat jauhnya akses ke rumah sakit. Usahanya membuat jarak tempuh dari 70 km menjadi 1 km menuju rumah sakit terdekat.

usaha sosial

Lo Siaw Ging: Dokter Tanpa Tarif

•28 November, 2013 • 3 Komentar

foto dokter

Nama lengkapnya Lo Siaw Ging,  namun ia lebih dikenal dengan panggilan dokter Lo. Di Solo, Jawa Tengah, dokter keturunan Tionghoa berusia 78 tahun ini populer bukan hanya karena diagnosa dan obat yang diberikannya selalu tepat, tapi juga karena  ia tidak pernah meminta bayaran dari pasiennya.

Setiap hari, kecuali Minggu, puluhan pasien antre di ruang tunggu prakteknya. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai tukang becak, pedagang kaki lima, buruh pabrik, karyawan swasta, pegawai negeri,hingga pengusaha.   Pasiennya tidak hanya datang dari Solo, tetapi juga kota-kota di sekitarnya, seperti Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, Boyolali, Klaten, dan Wonogiri. Continue reading ‘Lo Siaw Ging: Dokter Tanpa Tarif’

Pejuang Dari Gunung Hejo

•21 September, 2013 • 3 Komentar

Pejuang Gunung Hejo

PEJUANG DARI GUNUNG HEJO

Suatu hari di Desa Gunung Hejo, Purwakarta. Desau angin menyapa rimbunan pohon karet. Suaranya gemerisik, ditingkahi bunyi riang beberapa bocah yang tengah bermain petak umpet. Tak jauh dari bocah-bocah itu, di sebuah rumah sederhana, Djudju Djunaedi (65) tengah sibuk memasukan beberapa majalah dan buku bekas ke tas kain sandang yang berwarna hitam lusuh.

Usai membenahi barang-barang tersebut, ia lantas meraih topi bisbol-nya dan mengenakan sepasang sepatu usang berwarna hitam. Setelah pamit kepada sang istri, Heni Saeni, lelaki itu bergegas keluar dan dengan langkah pasti memulai aktivitas mulianya: mengajak orang-orang kampung untuk membaca.

Begitulah kiprah Bah Udju (panggilan akrab orang Gunung Hejo kepada Djudju Djunaedi) dalam mengisi hari-harinya. Laiknya petugas perpustakaan keliling profesional, Abah Udju tanpa mengenal rasa lelah terus mengajak orang-orang kampung di Gunung Hejo dan sekitarnya untuk mencintai buku dan gandrung membaca. Apa yang menyebabkan ia bersikeras melaksanakan aktivitasnya yang pernah dicibir orang sebagai “perbuatan aneh dan gila” itu?
Continue reading ‘Pejuang Dari Gunung Hejo’

Tukang Becak Ini Menyumbang Rp 570,000,000 Untuk Pendidikan Anak-Anak Miskin

•24 Agustus, 2013 • 5 Komentar

Tukang Becak Dermawan

Bapak tua ini berprofesi sebagai tukang becak selama 20 tahun dan telah menyumbangkan 350,000 Renminbi (mata uang China) atau setara dengan Rp 570,000,000 untuk membiayai pendidikan 300 orang siswa yang hidup dalam kemiskinan.

Di suatu musim dingin, ia memberikan sumbangan terakhirnya berupa 500 renminbi (Rp 800,000) kepada guru mereka, “Ini sumbanganku yang terakhir, aku tidak sanggup lagi untuk bekerja.” Ia meninggal pada umur 9e tahun. Nama beliau adalah Bai Fang Li.

Anda tidak perlu menjadi orang kaya untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Betapa mulianya ia.
Rest In Peace Bapak Bai Fang Li

—o0o—

Sumber: KlipingKehidupan.wordpress.com

Alam Semesta Yang Tampak

•6 Agustus, 2012 • 13 Komentar

Hadiah yang begitu indah di bulan Ramadhan ini….Alhamdulillah Ya Allah.

Sebuah video “The Known Universe” membawa kita terbang dari pengunungan Himalaya melewati atmosfer bumi lalu menembus gelapnya ruang angkasa menuju beberapa saat setelah Ledakan Bing Bang. Semua bintang, planet, dan quasar dapat terlihat berkat “Atlas Digital Alam Semesta Empat Dimensi Terakurat”. Atlas Alam Semesta Digital ini dirawat (maintained) dan diperbarui (update) oleh astrophysicists di American Museum of Natural History. Continue reading ‘Alam Semesta Yang Tampak’

Jangan Sombong

•6 Agustus, 2012 • 8 Komentar

“Awal mulane menungso entuk ngelmu kuwi soko kuping.
Nanging siro ojo gumede sebab durung mesti iso ningali.
Wis ningali ojo gemede siro, sebab durung mesti ngerti.
Wis ngerti ojo gumede siro, sebab durung mesti bener.
Wis bener siro, durung tentu adil.
Wis adil siro, ojo gumede, sebab durung tentu bijaksono.
Wis bijaksono siro, durung mesti waskito.
Wis waskito siro ojo gumede sebab durung mesti manjing suwargo.
Wis manjing suwargo siro, durung mesti sing duwe suwargo.”
Continue reading ‘Jangan Sombong’

Kopi Kehidupan

•23 Mei, 2011 • 30 Komentar

Suatu hari, sebuah kelompok alumni universitas yang terdiri dari para sarjana sukses, berkumpul bersama untuk mengadakan acara reuni dengan mantan profesor mereka. Acara yang diadakan di kediaman sang profesor tersebut dihiasi hiruk pikuk dan canda tawa hingga tanpa mereka sadari pembicaraan berubah menjadi ajang curhat berisi keluh-kesah, stres dan kerasnya kehidupan.

Untuk menghangatkan suasana, sang profesor pergi ke dapur untuk meracik kopi. Sekembalinya dari dapur, ia membawa sebuah teko besar dan berbagai macam cangkir yang terbuat dari keramik, plastik, kaca, kristal dan beberapa cangkir murahan. Ia mempersilakan tamu-tamu beliau untuk menghidangkannya sendiri. Continue reading ‘Kopi Kehidupan’

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya.