Menemukan Kesalahan

Oleh: M. R. Bawa Muhaiyaddeen

Artikel dari sini dan diterjemahkan oleh Dimas Tandayu

Cintaku untukmu, anakku, cucuku. Mendekatlah, dan aku akan memberitahu sesuatu kepadamu yang akan membantumu dalam kehidupanmu. Anakku, apakah kau pernah mengkritik orang lain dan menemukan kesalahan pada mereka, mengeluh “Kenapa mereka melakukan hal itu?” atau pernahkah kau melihat penderitaan yang ada di dunia dan bertanya, “Kenapa Tuhan melakukan hal ini?” manusia yang bijak tidak pernah memiliki pemikiran seperti itu. Dia akan mempelajari setiap situasi dan mencoba untuk mengerti apa sebab dan akibatnya. Akhirnya, ia akan berkata, “Ahh, jadi itulah kenapa hal ini terjadi”. Dia tidak pernah menyalahkan Tuhan atau bertanya atas cara yang Tuhan lakukan.

Jika kau berdiri ditengah badai dan mengkritik, mengatakan “Kenapa angin ini berhembus begitu kencang?” dan kau pun akan terperangkap di dalam badai tersebut. Jangan mencoba untuk mencari kesalahan pada badainya. Hal itu hanya akan menghancurkan dirimu. Lebih baik, pelajari badai tersebut dan carilah jalan keluar.

Anakku, Tuhan telah menciptakan berpasang-pasang hal yang berlawanan untuk mengajarkan kepada kita tentang kehidupan kita. Dia menciptakan benar dan salah, baik dan buruk, aroma harum dan bau busuk. Jika kehidupan tidak menyediakan hal-hal yang berlawanan ini kepada kita, bagaimana kita dapat mengerti segala sesuatu?

Kita hanya bisa mengerti kebaikan ketika kita telah mengenal keburukan. Kita hanya bisa mengenal cahaya ketika kita telah melihat kegelapan. Kita hanya bisa mengerti surga setelah kita mengalami neraka. Kita hanya bisa mengetahui terdapat sebuah kebenaran ketika kita telah menyaksikan sebuah kebohongan. Hanya ketika kita telah mengalami hasrat (nafs) rendah dan kerusakan yang datang dari mereka, baru kita akan mengerti pesan-pesan surga. Hanya ketika kita telah mengalami sifat mementingkan diri sendiri dan keterikatan terhadap sesuatu, baru kita akan menemukan jalan kita menuju pribadi yang tidak mementingkan diri sendiri dan tidak terikat terhadap apapun.

Demikian juga tidak ada nilai yang didapat dari mencari kesalahan dan mengkritik Tuhan atau siapapun. Lebih baik, kita seharusnya mencoba untuk mengerti setiap situasi dan mencari penjelasan di dalamnya. Setiap hal di dalam ciptaan terdapat suatu hal yang dapat mengajari kita, adalah tugas kita untuk menemukan pelajaran yang ada di dalamnya. Kita dapat memahami kebenaran melalui contoh-contoh. Itulah yang dinamakan kedewasaan. Manusia yang dewasa memahami penyebab dan akibat dari segala sesuatu.

Tanpa pemahaman ini, manusia hanyalah seekor binatang. Dia akan melakukan perbuatan buruk dan kemudian mengatakan itu adalah tugasnya. Tindakannya akan membawa kerusakan kepada dirinya dan orang lain. Tetapi manusia yang mengerti perbuatannya sebelum ia bertindak akan mendapatkan banyak manfaat dan akan memberi ketenteraman kepada orang lain. Dia akan menyempurnakan karya dari khazanah Yang Maha Kuasa. Jika keadaan ini dibangun di dalam diri manusia, dia akan dikatakan seorang insan kamil, manusia yang sempurna. Dia akan memahami.

Kita harus menemukan nilai dari segala sesuatu di dalam kehidupan kita. Kita harus menggunakan kearifan kita untuk memahami segala sesuatu. Kebenaran akan timbul dari dalam diri kita, dan di dalam kebenaran itu kita akan melihat cahaya Tuhan. Ini adalah keindahan dan rahmat dari jiwa.

Permataku yang bercahaya, kau harus merenungkan hal ini. Inilah kehidupan. Mengkritik dan mencari kesalahan hanya akan mendatangkan keburukan. Kau harus menyadari dimana letak kesalahannya dan kemudian menyingkirkan mereka. Apakah kesalahannya pada Tuhan? Apakah kesalahannya pada orang lain? Atau apakah kesalahannya pada diri kita? Dimana letak kesalahannya? Kita harus memahami ini dan menghindari mereka.

Cintaku untukmu.

M. R. Bawa Muhaiyaddeen

*

Sahabatku, artikel dengan tema yang sama bisa dibaca di “Ini Bukanlah Ujian, Tetapi Sebuah Kesempatan”

6 comments

  1. gomana klo kita udah tersakiti?apakah kita harus terima lagi org yang menyakiti kita?gimana klo orang itu udah benar2 benci?

    @muhsinah
    Mengenai hal ini, jawabannya ada pada mba muhsinah. Mungkin adalah lebih baik jika kita terus belajar untuk mengambil hikmah dari kejadian didalam kehidupan. Seperti yang dikatakan Syeikh Bawa, kita harus keluar dari badai dan mencari jalan keluar, sama halnya dengan kita harus membawa pikiran kita menuju “out of the box” dari pikiran kita. Terkadang kita terlalu yakin atas pandangan kita hingga kita tidak mencoba untuk melihat dari luar. Hal ini akan menyulitkan kita dalam menyelesaikan suatu masalah karena sempitnya wawasan kita. Untuk itu dengan pikiran yang arif adalah lebih baik untuk melihat kembali bagian mana yang salah, dan hikmah apa yang bisa saya ambil.

  2. aku mempunyai teman satu ruangan, ama teman kerja aku, aku merasa tak cocok,akuarus gimana menyikapi semua ini?
    @muhsinah
    Bukan hanya teman saja yang tidak cocok terkadang jika kita melihat kedalam kehidupan kita banyak menemukan situasi dimana keadaan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Seperti mba muhsinah bilang, mungkin hal itu adalah teman yang tidak cocok, mungkin juga suatu saat akan berubah menjadi pekerjaan yang tidak cocok, bos yang tidak cocok, gaji yang tidak cocok atau bisa juga cuaca yang tidak cocok, rumah yang tidak cocok, istri yang tidak cocok, suami yang tidak cocok, lingkungan, dll, daftar ini tidak akan habis dan sepanjang kita berfokus pada apa yang tidak cocok maka kita hanya akan melihat ketidakcocokan didalam kehidupan.
    Mungkin adalah lebih baik jika kita mencoba untuk melihat dari sisi yang berbeda. Ataupun kalo tidak bisa melihat sisi yang berbeda , kita bisa berfokus kepada hal lain, sehingga energi kita tidak terkuras karena terus-menerus memikirkan tentang ketidakcocokan.
    Mungkin Tuhan menghadirkan ia didalam hidupku agar aku bisa belajar sesuatu darinya, dan untuk itulah kita harus berfokus pada apa hikmah yang bisa saya ambil dari orang ini.

  3. Blog yang bagus…
    Salam Kenal…
    @Islam feminis
    Keindahan yang menyejukkan hati datangnya dari Tuhan Yang Maha Indah.
    mba Euis bukannya kita sudah kenal dari dulu?? pura-pura lupa yah…hehehe
    Salam kenal lagi deh.
    Tetap semangat dalam berkarya

  4. sampai saat ini aku belum juga bisa memahami “pemahaman” tsb… moga-moga aku bisa memahaminya … segera …
    @jurig
    jurig yang disayangi Allah…mungkin kamu sudah menyadarinya, tapi belum memahaminya. Terlepas dari hal itu Insyaallah kamu akan memahaminya🙂

  5. sejuk disini …
    salam kenal🙂

    @Watonis
    Sejuknya di sini menandakan sejuknya hatimu😉
    Salam kenal yah. Semoga bisa berbagi ilmu yang bisa menyejukkan hati.

  6. Bagus sekali artikel ini
    Kadang terlalu banyak orang atau saya sendiri (tapi itu dulu)menempatkan Tuhan ditempat yang salah.
    Sehingga merasa orang yang paling sedih ,orang yang paling sial
    dan lain-lain pokoknya tidak sesuai dengan selera yang kita maui
    dan kita menyalahkan Tuhan kenapa aku harus dilahirkan kalau hanya menanggung derita.
    Tapi dengan pencerahan seperti ini aku jadi sadar bahwa semua kejadian adalah pelajaran yang baik agar kita lebih bijak dalam
    menelusuri kehidupan ini
    Trims.

    @Zainal
    Sungguh sebuah pengalaman yang sangat indah untuk dishare kepada saya🙂 Terima Kasih ya
    Saya pun sering sekali bersikap seperti itu🙂 menyalahkan keadaan. Terlebih lagi jika berusaha kemudian rencana tidak berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Tetapi memang seperti itulah hidup. Terus belajar dan belajar untuk memahami bagaimana untuk memahami hidup dari kacamata yang terbaik.
    Semoga hati kita selalu mengarah kepada-Nya.
    Ya Tuhanku, bimbing kami dalam mengenali-Mu dan mencintai-Mu. amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s