Kejernihan Hati Imam Ali RA

TASAWUF MENDAMAIKAN DUNIA (Edisi Indonesia)

Islam & World Peace: Explanation of A Sufi (Edisi Inggris)

Oleh M.R. Bawa Muhaiyaddeen

Suatu hari ketika ‘Ali sedang berada dalam pertempuran, pedang musuhnya patah dan orangnya terjatuh. ‘Ali berdiri di atas musuhnya itu, meletakkan pedangnya ke arah dada orang itu, dia berkata, “Jika pedangmu berada di tanganmu, maka aku akan lanjutkan pertempuran ini, tetapi karena pedangmu patah, maka aku tidak boleh menyerangmu.”

“Kalau aku punya pedang saat ini, aku akan memutuskan tangan-tanganmu dan kaki-kakimu,” orang itu berteriak balik.

“Baiklah kalau begitu,” jawab ‘Ali, dan dia menyerahkan pedangnya ke tangan orang itu.

“Apa yang sedang kau lakukan”, tanya orang itu kebingungan. “Bukankah aku ini musuhmu?”

Ali memandang tepat di matanya dan berkata, “Kau bersumpah kalau memiliki sebuah pedang di tanganmu, maka kau akan membunuhku. Sekarang kau telah memiliki pedangku, karena itu majulah dan seranglah aku”. Tetapi orang itu tidak mampu.

“Itulah kebodohanmu dan kesombongan berkata-kata,” jelas ‘Ali.

“Di dalam agama Allah tidak ada perkelahian atau permusuhan antara kau dan aku. Kita bersaudara. Perang yang sebenarnya adalah antara kebenaran dan kekurangan kebijakanmu. Yaitu antara kebenaran dan dusta. Engkau dan aku sedang menyaksikan pertempuran itu. Engkau adalah saudaraku. Jika aku menyakitimu dalam keadaan seperti ini, maka aku harus mempertanggungjawabkannya pada hari kiamat. Allah akan mempertanyakan hal ini kepadaku.”

“Inikah cara Islam?” Orang itu bertanya.

“Ya,” jawab ‘Ali, “Ini adalah firman Allah, yang Mahakuasa, dan Sang Unik.”

Dengan segera, orang itu bersujud di kaki ‘Ali dan memohon, “Ajarkan aku syahadat.”

Dan ‘Ali pun mengajarkannya, “Tiada tuhan melainkan Allah. Tiada yang ada selain Engkau, ya Allah.”

Hal yang sama terjadi pada pertempuran berikutnya.’Ali menjatuhkan lawannya, meletakkan kakinya di atas dada orang itu dan menempelkan pedangnya ke leher orang itu. Tetapi sekali lagi dia tidak membunuh orang itu.

“Mengapa kau tidak membunuhku?” Orang itu berteriak dengan marah. “Aku adalah musuhmu. Mengapa kau hanya berdiri saja? Dan dia meludahi wajah ‘Ali.

Mulanya ‘Ali menjadi marah, tetapi kemudian dia mengangkat kakinya dari dada orang itu dan menarik pedangnya.

“Aku bukan musuhmu”, Ali menjawab.”Musuh yang sebenarnya adalah sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita. Engkau adalah saudaraku, tetapi engkau meludahi wajahku. Ketika engkau meludahiku, aku menjadi marah dan keangkuhan datang kepadaku. Jika aku membunuhmu dalam keadaan seperti itu, maka aku akan menjadi seorang yang berdosa, seorang pembunuh. Aku akan menjadi seperti semua orang yang kulawan. Perbuatan buruk itu akan terekam atas namaku. Itulah sebabnya aku tidak membunuhmu.”

“Kalau begitu tidak ada pertempuran antara kau dan aku?” orang itu bertanya.

“Tidak. Pertempuran adalah antara kearifan dan kesombongan. Antara kebenaran dan kepalsuan”. ‘Ali menjelaskan kepadanya. “Meskipun engkau telah meludahiku, dan mendesakku untuk membunuhmu, aku tak boleh.”

“Dari mana datangnya ketentuan semacam itu?”

“Itulah ketentuan Allah. Itulah Islam.”

Dengan segera orang itu tersungkur di kaki ‘Ali dan dia juga diajari dua kalimat syahadat.

10 comments

  1. Meskipun sudah berkali-kali membaca/mendengar cerita ini, tapi tiap kali membaca, rasanya selalu nikmat dan haru mendengarnya.
    Terimakasih.

    @agorsiloku
    Subhanallah🙂

  2. sungguh sangat menyejukkan …

    Islam tidak mengajarkan kekerasan… peace !

    @joerig
    Betapa indahnya hatimu joerig, terima kasih untuk commentnya yang menyejukkan🙂 Benar apa yang kamu katakan “Islam tidak mengajarkan kekerasan” karena kekerasan adalah jalan setan. Allah dan NabiNya selalu mengajarkan Jalan Cinta yang dilandasi Kasih Sayang,Kesabaran, Kejujuran,Kebersamaan,Ketulusan dan semua sifat-sifat yang dilandasi sifat-sifat Agung Al-Asmaul Husna. Semoga Sang Cinta selalu membimbing kita dalam berjalan menujuNya.amin🙂

  3. seneng baca postingnya,,

    Ma sebenernya mau nyari page About Me-nya,, kok ga liat ya,, tadi waktu liat home-nya,, tulisan “Yang Mengenal Dirinya, Mengenal Tuhannya” itu bikin inget,, pernah jadi motto kelas Ma di SMA,, jadi kangeen,,
    sori ga nyambung,,🙂

    @Rizma
    Mari kita sambunging…hehehe
    Page about me-nya ada kok,tapi isinya juga bukan tentang diriku,karena tidak ada yang penting dari diriku😉
    “Yang Mengenal Dirinya, Mengenal Tuhannya”—>motto di SMA? hebat! dari sma saja sudah aktif mencari Tuhan.
    Semoga Ia membimbing kita semua

  4. Ya Allah … berikanlah keselamatan Junjungan kami Nabi Muhammad SAW beserta para ahlul baitnya … Ya Allah …

    syukron atas artikelnya mas ….

    @Suryadhie
    Amin Ya Rabbal Alamin🙂

  5. Kisah-kisah yang indah…
    Menggetarkan hati…
    Adakah kini…
    terulang kembali…?

    @Mr.Fulus
    Subhanallah, Insyaallah ada. Jika mas fulus bisa menerapkannya.

  6. terima kasih saudaraku….
    pelajaran beginilah yang harus kita diteladani.
    cuman kenapa judulnya kok begitu ?

    ikut posting, ditempat lain boleh gak ?
    sebelumnya saya ucapkan jazakumullahu khoiron katsiro.

    =========================================================================

    Alhamdulillah.
    Cerita ini saya dapatkan dari sebuah buku, dan judulnya juga seperti itu. Sejak awal saya juga menyadari judulnya terlalu nyentrik. Saya akan mengganti judulnya🙂
    Silahkan posting di tempat lain, terima kasih telah diberikan kesempatan untuk berbagi.

  7. setiap membaca kisah ali karamallahuwajha..mbuat hati sy terharu &menangis…sgt menyentuh..mampukah sy mencontohinya..yaa Allah tolong aku…

    ========================================================================

    Bimbing kami ya Allah. amin

  8. ALLAHU AKBAR. Maha besar ALLAH dengan segala firmanNYA dan penciptaan para sahabat nabi yang begitu bijak dengan menghadapi segala sesuatu. Sahabat navi, ALI RA adalah salah satu contoh orang yang mulia, maka Manusia harus bercermin atas diri meraka sendiri
    Subha’nallah

  9. manusia adalah mahluk yang sangat mulia dengan kemulyaanya dapat menjadikan bumi ini tenang dan tentran salang menyayangi dan mencintai sesama sebagai wujud kemulyaanya sesuai qodrat dalam pencitaanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s